Saturday, May 29, 2010

Urban Heritage Adventure #1

Perjalanan ini dalam rangka pengamatan terhadap objek studi bangunan heritage. Kami melakukan perjalanan ini dengan 4 orang tim (Saya, Andi, Chairul, Putri). Saya dalam survey ini berusaha untuk melakukan pengamatan terhadap kota Salatiga, khususnya bangunan eks Kodim 0714 Salatiga. Andi melakukan survey terhadap bangunan Benteng Willem II dan museum kereta api uap ambarawa. Chairul melakukan pengamatan terhadap daerah taman sari, yogyakarta. Karena lokasi pengamatan yang cukup berdekatan maka kami memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama.

Kami melakukan perjalanan dari bandung menuju ke semarang terlebih dahulu. dari semarang kami barulah menuju Ambarawa. Kami di semarang menginap di rumah keluarga Bpk Azis (saudaranya andi)...

Benteng Willem II – Ambarawa

Ini merupakan destinasi pertama objek heritage kami. Untuk melakukan survey di daerah ini ternyata cukup sulit. Karena benteng willem berada dalam kompleks TNI yang cukup ketat, serta ternyata benteng tersebut juga merupakan bagian dari lapas. jadi sekarang fungsi dari benteng ini adalah separuh untuk mess TNI dan separuh lagi untuk lapas. Maka perijinan cukup sulit. Namun kami sangat beruntung karena setelah memohon ijin kami diberikan ijin dari untuk survey oleh pihak TNI dan lapas.

Sebelum mulai perjalanan kami di beritahu oleh wakil kepala lapas untuk mengucapkan permisi ato asalam mualaikum ketika menelurusuri area ini... tapi untung selama survey tidak ada ganguan (aman dan lancar). Ada sesuatu yang membuat saya cukup kaget, ternyata di salah satu blok mess TNI kok ada tugu pengijeng khas Bali. Karena saya asli orang bali saya tau benar mengenai bangunan ini. Ternyata salah satu angota TNI yang tinggal di sana adalah orang Bali, beliu tidak lain adalah komandan yang ada disana. Wah tau gitu mungkin urusan perijinan tadi bisa lebih mudah.

Dalam pengamatan kami takjub akan kemegahan bangunan ini, terlihat bangunan masih sangat kokoh berdiri namun sayang kondisinya saat ini tidak terawat dengan baik. sebagian dimanfaatkan sebagai lapas dan sebagian dimanfaatkan sebagai bangunan mess TNI. Gaya arsitekturnya sebenarnya sangat artistik sekali. Struktur dinding pemikul dengan bentuk bukaan melengkung (arc) sangat kental pada bangunan ini. Bata merah nya pun sangat istimewa, mencirikan kualitas material jaman dulu, dimensinya pun sangat berdeda (lebih besar) dari bata merah sekarang.

Sungguh sangat disayangkan bangunan yg mengah dengan catatan sejarah yang panjang ini tidak bisa dimanfaatkan secara optimal...

Museum Kereta Api Uap - Ambara

Setelah dari benteng willem II kami menuju museum kereta api uap. Jaraknya tidak terlalu jauh dan masih memiliki kaitan sejarah dengan benteng willem. Museum ini dahulunya merupakan stasiun kereta ambarawa. Keberadaan stasiun ini karena untuk mendukung keberadaan benteng willem sebagai gudang senjata dan logistik belanda.

Dalam museum ini terdapat banyak sekali lokomotif kereta uap jaman kolonial yang masih dapat kita liat dengan kondisi fisik yang masih baik (tapi saya tidak tau apakah masih bisa beroperasi atau tidak). Di museum ini juga terdapat lori wisata (kereta wisata) dan koleksi museum berupa alat kantor jaman kolonial (mesin ketik, mesin telegram, telepon, stampel).

Candi Borobudur

Setelah dari Ambarawa sebenarnya tujuan berikutnya adalah yogyakarta. Namun karena saya dan chairul sama sekali belum pernah ke borobudur , maka kami sempatkan untuk mampir sebentar. Ternyata di borobudur kami disambut dengan hujan, tapi semangat tidak pudar. Saya sangat takjub dengan keajaiban dunia ini. Nanum sayang kenapa banyak patung budha di sana tidak ada kepala dan tangan nya yach? Denger2 infonya: kata banyak prasasti yang dicuri... aduh, sayang sekali padahal itu kekayaan yang tidak ternilai.

kebetulan kami berkunjung ketika hari H-1 perayaan Waisak maka kami dapat melihat berapa persiapan dan event yg telah dan sedang diselemggarakan di borobudur.

Taman Sari - Yogyakarta

setelah dari Borobudur kami melanjutkan perjalan menuju yogya. kami tiba pada sore hari. untunglah kami dipandu oleh seorang rekan saya (Retno) yang kebetulan telah menetap di yogya, sehingga memudahkan kami dalam menjelajahi daerah ini menuju ke Taman Sari.

karena kami tiba di Taman sari sekitar pukul 6 sore, maka area utama yakni pemandiannya sudah tutup. sehingga kami tidak bisa melihat tempat tersebut. untunglah kami bertemu dengan seorang pemandu yang bersedia memandu kami berkeliling komplek Taman Sari ini. walau tidak dapat mengunjugi pemandiannya tapi kami dapat berkeliling menuju area pertapaan Sultan. kondisi saat itu hujan rintik-rintik.

WOW... jujur petualangan yang ini cukup SERU. tempat ini tergolong angker menurut masyarakat sekitar, parahnya kami malah berkunjung ketika matahari telah tenggelam. wah tambah seru. kami menelusuri satu persatu area pertapaan tersebut, yang menurut pemandu tersebut daerah ini ketika malam jumat kliwon banyak orang bersemedi di sini. WOW tambah seru lagi...

ketika hendak meninggalkan pertapaan sultan ini hujan pun turun dengan lebatnya. kami punberteduh sejenak di sebuah galeri seni di daerah ini. ketika itu saya sempatkan untuk membelikan sebuah kado kepada seorang sahabat. semoga dia suka....

Boyolali - Solo

kami malamnya bermalam di daerah boyolali di rumah keluarga nya Putri. dan paginya meneruskan perjalanan menuju Solo. sebenarnya Solo bukan menjadi tujuan utama kami. tapi karena Andi ingin memberikan sesuatu kepada kerabatnya di solo maka kami pun singgah disini, disini kami disambut oleh mbak Hera. dialah yang mengantarkan kami berkeliling di solo dan kami pun menyempatkan untuk berbelanja batik di Solo.

setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan menuju Salatiga.

Eks Kodim 0714 Salatiga

saya disini melakukan pengamatan terhadap kasus pembongkaran bangunan heritage yaknik eks kodim 0714 salatiga yang dahulunya merupakan bangunan hotel blommestein. kasus ini telah banyak menarik perhatian masyarakat dan pengamat budaya (klik disini).

kondisi bangunan sekarang ini sudah cukup hancur, namun masih dapat kita lihat beberapa jejak arsitektur nya. daya cukup beruntung ketika disana saya bertemu dengan warga setempat yang tinggal disana, yang cukup tau bangunan tersebut semasa masih berupa hotel. berikut ini beberapa gambar yang sempat saya abadikan.

kami dalam perjalanan ini mengucapkan terima kasih banyak kepada keluarga Bpk Azis, Retno, Mbak Hera, dan keluarga putri di boyolali. karena telah sudi menjamu kami selama dalam perjalanan....


4 comments:

  1. Blog Anda tentang arsitektur sangat interesan dan terima kasih untuk foto tentang keadaannya KODIM Salatiga.
    Kalau saya ke salatiga bulan september saya membuatkan videofilm

    Ed Vos
    salatiga.nl

    ReplyDelete
  2. thanks Ed Vos

    kebetulan kemaren saya sempat bekunjung kekota mungil yang cantik ini...

    Hendra Santika
    arcaban

    ReplyDelete
  3. ooooooooooooo... kalian tooohhh... wkwkwkwkwkwk... Akhirnya nemu blog RK 09 yak... Baguuuss!!!!

    ReplyDelete
  4. thanks dah berkunjung mbak aliah...
    lumayan buat posting2 tulisan2... hehehehe

    ini blog saya... rata2 semua anak RK 09 punya blog kok... hehehehe

    ReplyDelete

“Harturyati na gocaram kimapi sam pusnati yatservad, hyarthibhyah prati padyamanamanisam prapnoti Vrddhimparam, kalpantesvapi na prayati nidhanam vidhyakhy – amantardhanam, yesam tanprati manamujjnata nrpah kastai saha spardhate”

Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh siapapun, semakin banyak diberikan akan semakin berkembang, dengan memiliki pengetahuan akan hadir kedamaian dalam diri manusia
(Niti Sataka – sloka 12)