Sunday, September 13, 2009

Sejarah Perkembangan Kota Denpasar



Sejarah Perkembangan Kota Denpasar.

1. Denpasar sebagai Kota Kerajaan.

Penataan kota (lingkungan sekitar Puri : Istana Raja) secara konsepsual direncanakan mengikuti pola penataan Pempatan Agung yang merupakan Implementasi dari konsep Catus Patha.


2. Denpasar sebagai Kota Kolonial

Munculnya Gereja, pembangunan dan perbaikan jalan, saluran irigasi, bangunan kantor, tangsi atau penjara dan juga tempat rekreasi seperti Museum Bali (1910) dan Museum Le Mayour di Sanur (1939). Serta juga fasilitas akomodasi seperti Bali Hotel (1925) yang merupakan hotel pertama di Bali.


3. Asimilasi Budaya Luar.

Pengaruh budaya luar sangat terasa sekali di kota Denpasar. Tahun 1916 banyak datang pedagang dari cina dan arab yang membuka usaha dagang di pusat kota


4. Perkembangan Kawasan Pusat Kota.

Nampak jelas intervensi kolonial dalam menata kawasan pusat kota mengikuti pola Grid. Adanya pergeseran peran dari filosofi Catus Patha sebagai titik pusat kota digantikan oleh dominasi alun-alun.



5. Kondisi Pusat Kota Denpasar Saat Ini

fungsi yang berkembang saat ini adalah: perdagangan dan jasa, perkantoran, permukiman, peribadatan, rekreasi, pendidikan.



"Arsitektur Kota Denpasar memiliki ciri Arsitektur 3 Jaman" yang dapat dilihat dari bangunan dan tata kota yang ada serta perubahan yang terjadi. yang mewakili 3 jaman tersebut antara lain: jaman kerajaan (catus patha), jaman kolonial (dominasi alun-alun), jaman perdagangan cina dan arab (tipologi bangunan toko klontong).



Baca Juga Materi terkait ini : Denpasar Temp Doeloe

1 comment:

  1. gambar patung yang disajikan adalah "patung catur muka" yang berada tepat ditengah-tengah catus patha.

    ReplyDelete

“Harturyati na gocaram kimapi sam pusnati yatservad, hyarthibhyah prati padyamanamanisam prapnoti Vrddhimparam, kalpantesvapi na prayati nidhanam vidhyakhy – amantardhanam, yesam tanprati manamujjnata nrpah kastai saha spardhate”

Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh siapapun, semakin banyak diberikan akan semakin berkembang, dengan memiliki pengetahuan akan hadir kedamaian dalam diri manusia
(Niti Sataka – sloka 12)